Jumat, 15 April 2011

Kecantikan Sejati



Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.
Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.


Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!

Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.

Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat,wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.

Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?

Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…

Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya)“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)

Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.

Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.
Disalin dari:www.muslimah.or.id

Senin, 04 April 2011

Liliana

"ku ingin menangis dipangkuanmu, sembari mengusap kau katakan aku kan slalu ada untukmu" maafkan aku, maafkan atas kekhilafanku, sepertinya aku harus bisa belajar ikhlas menerima keadaan ini. Disatu sisi aku mengagumimu, akupun bahagia kau menempatkan aku di hatimu, disisi lain aku mengharapkan orang yang belum kukenal sama sekali, namun entah mengapa besar harap hati ini akan dirinya, mungkin aku bisa menjadikan aku satu bagian terindah dihatimu, hanya saja waktu yang belum mempertemukan kita. Sementara apa yang ada di depan, kusia-sia kan begitu saja, aku terlalu mengejar apa yang belum tentu menjadi hak apalagi miliku. Tapi aku hanya lah sorang manusia biasa yang terkadang lena oleh manisnya senyum.

Andai aku boleh jujur, aku tak ingin menyakiti siapapun, menyakiti dia sama halnya menggores hati ini sendiri. Beri aku waktu tuk meyakinkan kau lah yang terbaik untukku.

Minggu, 03 April 2011

Untuk Melawanmu

Ketika berhadapan dengan teman, keluarga atau bahkan istri yang menderita kanker payudara, biasanya Anda akan melontarkan kata-kata penyemangat. Tetapi sadarkah bahwa beberapa niat baik Anda berupa ungkapan atau kata-kata motivasi justru dapat berdampak buruk bagi mereka.

Menurut psikiater sekaligus direktur layanan psiko-onkologi di Creighton University di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, Jeffrey Knajdl setidaknya, ada lima ungkapan yang sering disampaikan oleh perawat atau pendamping dengan maksud memberi semangat. Tetapi efek yang terjadi justru sebaliknya, ungkapan ini justru dapat memutus komunikasi dan memperburuk suasana hari pasien kanker payudara.

Inilah lima ungkapan yang dapat memperburuk suasana hati penderita kanker :

1. "Semuanya akan baik-baik"

Anda tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan pasien kanker payudara. Menurut Knajdl, kata-kata itu tidak lebih hanya sekedar basa-basi saja dan justru membuat rasa kepercayaan diri mereka menurun. "Ini tidak membuatnya merasa lebih baik. Karena mereka tahu ungkapan itu tidak selalu benar," katanya

Solusi : Perempuan dengan kanker payudara hanya ingin mendengar bahwa Anda akan selalu mendampinginya dalam segala kondisi. Anda harus berada di sana untuk mereka. "Teruslah mengatakan padanya bahwa Anda akan berada di sana dengan dia dan Anda akan melalui ini bersama-sama," sarannya.

2. "Saya tahu bagaimana perasaan Anda"

Kata-kata ini hampir selalu kita ucapkan apabila melihat seseorang sedih atau kesal. Masalahnya adalah, ketika Anda berkata, saya tahu bagaimana perasaan Anda, hal ini justru akan meningkatkan rasa isolasi pasien. Pasien akan beranggapan bahwa Anda tidak ingin membahas tentang penyakitnya. Anda bisa mengatakan kata-kata itu apabila mengalami kondisi yang sama dengan mereka.

Solusi: Menurut Knajdl, sebuah pendekatan akan lebih baik, misalnya dengan menanyakan sesuatu seperti, "Bagaimana suasana hati Anda?" Jika orang yang Anda rawat sedang cemas atau sedih, ini dapat memberinya kesempatan untuk mencurahkan segala bentuk perasaannya kepada Anda. Cara ini lebih baik ketimbang pasien terus menyimpan segala keluh kesahnya seorang diri.

3. "Coba tetap bersikap positif, rileks, dan menghindari stres membantu kesembuhan Anda"

Pasien kanker seringkali mendengarkan nasihat seperti ini. Mereka dalam kondisi terpuruk dan Anda tak ingin perasaan terpuruk itu mempersulit proses penyembuhan.

Sangat disayangkan, banyak sekali literatur mengatakan bahwa penderita kanker payudara mengalami sakit karena rasa cemas, stres dan dan mereka bisa sembuh apabila selalu merasa senang dan berpikir positif.

Tetapi kenyataannya yang terjadi adalah mereka justru menjadi lebih khawatir karena selalu berpikir bagaimana cara agar tidak cemas. Mereka juga merasa bersalah karena dirinya tidak merasa bahagia.

Solusi: Ketika pasien tegang atau cemas, mintalah dia untuk mengidentifikasi apa yang menjadi pemicu munculnya stres dan lakukan sesuatu yang bisa membuatnya beristirahat. Dengan kata lain, jangan hanya mengatakan "santai," tetapi ikut membantunya dengan cara mengatasi permasalahannya.

4. "Kita bisa mengalahkan penyakit ini"

Kata-kata ini seringkali dilontarkan untuk memberi semangat dan kekuatan bagi mereka yang menyandang penyakit cukup berat. Namun, pandangan berbeda justru dilontarkan oleh Knajdl. Ia mengatakan bahwa sulit untuk seseorang bisa menang melawan kanker hanya dengan bermodalkan sikap optimistis dan kemauan yang kuat. "Ada berbagai macam faktor yang mendasari mengapa beberapa orang bisa sembuh dengan cara ini dan yang lainnya tidak. Bagi mereka yang sembuh, hanya faktor keberuntungan saja," ucapnya.

Solusi: Cara terbaik untuk membantu mereka (penderita kanker) merasa positif dan penuh harapan adalah dengan terus meyakinkannya bahwa Anda akan selalu bersama-sama mereka, tetap merawat dan mendukung dia dan membuatnya senyaman mungkin selama menjalani terapi.

5. "Selamat, Anda sudah selesai menjalani kemoterapi"

Sebagai pendamping pasien, Anda akan merasa senang ketika pengobatan selesai. Tetapi apa yang Anda rasakan belum tentu sama dengan apa yang mereka (pasien) alami. Ketika pengobatan selesai, tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali menunggu, dan tentu saja ini akan kembali menimbulkan perasaan cemas bagi mereka.

Solusi : Beri dia kesempatan untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya. Coba tanyakan pertanyaan terbuka, seperti, "Bagaimana perasaan Anda sekarang setelah menyelesaikan kemo?" Cara ini akan memungkinkan Anda untuk mengendalikan respon. Intinya adalah, apa pun yang dia rasakan tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah Anda harus siap mendengarkan apa pun yang dia katakan.

Jumat, 01 April 2011

Aku Selalu Mendukungmu

Penderita kanker payudara, terutama stadium lanjut, umumnya diliputi kemarahan dan depresi karena memikirkan penyakit yang dideritanya. Karena itu, dukungan keluarga amat diperlukan dalam perawatan pasien. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan semangat hidup dan komitmen pasien untuk tetap menjalani pengobatan.Diagnosis kanker bukan vonis kematian. “Dengan terapi sejak dini, angka harapan hidup kini jauh lebih tinggi dari sebelumnya, bahkan kecacatan akibat operasi bisa dihindari.
Sayangnya, banyak penderita baru datang berobat pada stadium lanjut. Data dari RS Dharmais pada 5 tahun terakhir ini mencatat, angka kejadian kanker payudara menempati urutan pertama yaitu 32 persen dari total jumlah kasus kanker. Di antara para pas ien kanker payudara itu, hanya 40 persen yang datang berobat pada stadium awal.
Umumnya ada lima fase reaksi emosional penderit a ketika diberitahu menderita kanker yang sudah lanjut, kata dr Maria Astheria Wijaksono, ahli perawatan paliatif dari RS Kanker Dharmais. Fase pertama adalah penderita menyangkal kenyataan, lalu marah terhadap kenyataan yang d ihadapi, diikuti fase menimbang-nimbang dan diliputi depresi. Setelah fase ini berlalu, akhirnya pasien sadar dan menerima kenyataan.
Berikut ini ada 6 hal yang bisa dilakukan seseorang sebagai bentuk dukungan terhadap orang dengan kanker payudara:

1. Mendukung apapun yang dia putuskan
Pengobatan untuk kanker payudara melibatkan keputusan yang tidak berujung, mulai dari lumpectomy, radiasi, kemoterapi atau bahkan mastectomy. Untuk itu cobalah menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi, tapi bantu ia mempertimbangkan pro dan kontranya dengan tetap memahami ketakutan serta emosional lainnya.

2. Jangan biarkan ia pergi konsultasi seorang diri
Tidak peduli seberapa mandiri atau beraninya ia, tapi usahakan tetap menemaninya karena memiliki janji dengan dokter kanker saja bukanlah hal yang menyenangkan. Dengan adanya orang yang menemani, maka bisa mengurangi rasa panik dan memberikan dukungan.

3. Berbicara secara terbuka tentang payudaranya dengan pasangan
Payudara memainkan peran yang besar dalam kehidupan seks pasangan, sehingga jika kehilangan 1 atau kedua payudara maka bisa mengurangi rasa seksualitas perempuan. Untuk itu jika ia memutuskan melakukan mastektomi, maka jelaskan bahwa masih ada daya tarik lain dalam dirinya selain payudara serta yakinkan ia bahwa kesehatan sesuatu yang jauh lebih penting.

4. Mengantisipasi dan membantunya bila ia tidak bisa melakukan sesuatu
Terkadang setelah operasi seseorang tidak bisa mengangkat lengannya, karena itu bantulah dengan mendekatkan atau meletakkan barang-barang yang diperlukannya dibagian bawah rak sehingga ia tidak perlu mengangkat lengan.

5. Jadilah perawat yang kuat
Pengobatan kanker umumnya melibatkan banyak efek samping yang tidak menyenangkan seperti mual, nyeri serta kelelahan. Ketika pasien kanker terlalu lelah untuk bangun dari tempat tidur, terlalu sakit untuk makan atau tidak bisa berjalan, maka berilah bantuan dengan menjadi perawat yang kuat.

6. Jangan berharap semuanya akan baik-baik saja dalam waktu cepat
Meskipun pengobatan sudah selesai, bukan berarti semuanya bisa akan kembali biasa dalam waktu cepat. Kemoterapi bisa membuat kerontokan rambut atau bahkan menjadi botak, dan kehilangan payudara akan berdampak bagi kepercayaan dirinya. Untuk itu bantulah ia memilih penutup kepala yang cantik serta menyakinkan bahwa ia tetap seksi. Bertahanlah di sana selama dibutuhkan.